Tragedi Di Bandara Muan: Kecelakaan Pesawat Jeju Air Tewaskan 62 Orang, Investigasi Masih Berlangsung

Sedang Trending 8 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Sebuah pesawat dengan 181 penumpang dan awak mengalami kecelakaan di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan, yang mengakibatkan sedikitnya 62 korban jiwa, menurut laporan otoritas setempat pada Minggu (tanggal kejadian).

Badan Pemadam Kebakaran Nasional melaporkan bahwa dari 62 korban tewas, terdapat 37 perempuan dan 25 laki-laki. Insiden terjadi ketika pesawat maskapai Jeju Air tergelincir keluar landasan pacu dan menabrak dinding bandara saat mendarat setelah penerbangan dari Bangkok, Thailand.

Menurut kantor berita Yonhap, pesawat tersebut membawa 175 penumpang dan enam awak. Dari total penumpang, 173 merupakan warga Korea Selatan, sementara dua lainnya berkewarganegaraan Thailand. Dua orang ditemukan selamat, dan operasi evakuasi terus berlangsung, menurut pejabat pemadam kebakaran kepada Reuters.

“Kami sedang berupaya menyelamatkan mereka yang terjebak di bagian ekor pesawat,” ujar seorang pejabat bandara. Hingga saat ini, penyebab kecelakaan belum dapat dipastikan. Namun, laporan awal menyebutkan kemungkinan gangguan dari kawanan burung yang mengakibatkan kegagalan roda pendaratan, seperti dilaporkan Yonhap.

Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan pesawat tergelincir keluar landasan dan menabrak dinding sebelum sejumlah bagian pesawat terbakar. Video lain memperlihatkan asap tebal membumbung ke udara, menandakan dampak kecelakaan tersebut.

Satu pramugari dan satu penumpang berhasil diselamatkan, menurut pernyataan resmi dari Badan Pemadam Kebakaran Korea Selatan. Sebanyak 32 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi untuk menangani situasi.

Bandara Internasional Muan terletak sekitar 288 kilometer di selatan ibu kota Seoul. Meskipun industri penerbangan Korea Selatan dikenal memiliki catatan keselamatan yang baik, insiden ini menjadi kecelakaan fatal pertama bagi Jeju Air sejak maskapai tersebut berdiri pada 2005. Jeju Air merupakan salah satu maskapai penerbangan berbiaya rendah terbesar di negara tersebut.

Komentar ahli menunjukkan bahwa investigasi menyeluruh diperlukan untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan ini, termasuk kemungkinan faktor cuaca dan teknis. “Setiap kecelakaan seperti ini mengingatkan kita akan pentingnya evaluasi keselamatan secara berkala,” ujar seorang pakar penerbangan setempat.

Artikel Terkait